Potensi usaha tenun ulos yg menjadi destinasi wisata di pinggiran danau toba




Indonesia mempunyai berbagai jenis kain tenun tradisional yang terkenal dan keberadaannya sudah sangat lama di Indonesia seperti Songket dari Sumatera Selatan, Tenun Cak-Cak Dari Bali, Ulos dari Sumatera Utara. Kain-kain tenun ini sudah sangat lama menjadi pelengkap acara-acara penting dan adat-istiadat di daerahnya masing-masing dan sudah menjadi ciri khas tradisional maupun produk unggulan di bidang tekstil di daerah tersebut. Demi menjaga dan melestarikan warisan budaya tersebut semakin banyak muncul industri tenun yang mengerjakan kain-kain tenun tersebut yang selalu berkembang dan kemudian menjadi kegiatan tulang punggung ekonomi di masyarakat. Dalam industri tenun alat-alat yang digunakan dalam proses pembuatan produk menggunakan bahan serat terutama kapas yang dipintal mejadi macam-macam alat menenun kain seperti alat tenun gedongan yang dijalankan dengan kaki, serta alat tenun mesin (ATM) yang dijalankan dengan motor, alat tenun bukan mesin (ATBM) yang digunakan dengan kaki.

      

Kain ulos yang dikembangkan di Sumatera Utara merupakan busana khas masyarakat batak. Dari sejarahnya kain ulos zaman dahulu digunakan untuk menghangatkan badan. Dalam tradisi batak ada istilah “mengulosi”, yang artinya menghangatkan badan dengan kain ulos. Ada aturan yang harus dipatuhi untuk mengulosi, antara lain orang hanya boleh mengulosi menurut kekerabatan dari atas ke bawah. Misalnya, orang tua boleh mengulosi anak, tetapi anak tidak boleh mengulosi orang tua. Kain ulos juga merupakan salah satu peradaban tertua di asia yang sudah ada sejak 4.000 tahun lalu pada kebudayaan batak, bahkan ulos telah ada jauh sebelum bangsa Eropa mengenal teksti.

 
Kain ulos yang merupakan kain khas tradisional orang batak dan kain ulos sudah tidak bisa lagi dipisahkan dari kehidupan orang batak, karena kain ulos selalu digunakan dalam setiap acara perkawinan, kelahiran anak, punya rumah baru, kematian dan akan pentingnya kain ulos mulai digunakan dalam acara-acara umum ulang tahun, syukuran bagi orang tua yang panjang (saur matua), penyambutan tamu-tamu penting seperti pejabat yang datang akan di berikan kain ulos sebagai sambutan dan cindera mata.
Kegiatan tenun ulos awalnya berada di Tapanuli tepatnya di daerah balige dan porsea dan ulos yang ditenun awalnya digunakan hanya untuk kegiatan adat-istiadat saja, akan tetapi kegiatan menenun ulos berkembang menjadi sektor industri dan berkembang ke daerah lain yang juga penduduknya mayoritas orang batak khususnya di daerah Kota Pematangsiantar karena semakin bertambanya permintaan dan kebutuhan ulos serta belum adanya industri tenun ulos di Kota Pematangsiantar, tidak mungkin secara terus-menerus masyarakat Kota Pematangsiantar membeli ulos dari tapanuli karena jarak antara tapanuli dan Pematangsiantar sangat jauh menempuh perjalanan sampai 6 jam lamanya, karena 3 kondisi tersebut industri tenun ulos di Kota Pematangsiantar semakin berkembang dan besarnya peluang usaha yang mendukung dalam industri tenun ulos karena penduduk di Kota Pematangsiantar juga didominasi oleh orang batak.
Semakin banyaknya akan kebutuhan kain ulos dalam acara-acara dan kegiatan-kegiatan orang batak, perkembagan industri tenun ulos semakin berkembang di Kota Pematangsiantar khususnya di Kecamatan Siantar Utara. Perkembangan Industri ulos di Kecamatan Santar Utara berada di Kelurahan Sigulang-gulang yang menjadi salah satu kelurahan sentra industri tenun ulos dan menjadi kegiatan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari di Kecamatan Siantar Utara.

Sejarah awalnya industri tenun ulos di Kelurahan Sigulang-gulang dimulai pada usaha tenun marudut sitorus karena usaha tenun ulos tersebut yang pertama berdiri di Kelurahan Sigulang-gulang, marudut sitorus aslinya bukan berasal dari Kelurahan Sigulang-gulang dia berasal dari porsea yang kemudian datang ke Kota Pematangsiantar dan menetap di Kelurahan Sigulang-gulang dan pada saat itu marudut mempunyai keinginan yang sangat tinggi untuk membuka industri tenun ulos karena marudut sudah mempunyai keterampilan untuk menenun ulos dan dia membawa ide dan keterampilannya ke Kelurahan Sigulang-gulang dengan mendirikan industri tenun ulos, kebetulan pada saat itu belum adanya industri tenun ulos di Kelurahan Sigulang-gulang dan dia melihat adanya peluang bisnis di industri tenun ulos sebab pada tahun 1970-an orang batak di Kelurahan Sigulang-gulang maupun di Kota Pematangsiantar membeli ulos untuk kegiatan adat-istiadat dari luar Kota Pematangsiantar ulos yang dibeli dari daerah tapanuli seperti balige dan porsea dan pada tahun 1970-an marudut bisa membuka industri tenun ulos karena dia memperoleh alat-alat produksi seperti ATBM dengan harga yang relatif murah sebab pada saat itu petenun ulos dari daerah tapanuli menjual alat-alat produksi mereka dengan harga murah karena pasokan bahan baku mulai langkah dan susah didapat yang menyebabkan banyak pelaku industri tenun di daerah tapanuli gulung tikar.
Usaha tenun ulos marudut sitorus merupakan industri tenun pertama di Kelurahan Sigulang-gulang dan satu-satunya industri tenun ulos marudut yang berdiri pada saat 1970-an di kelurahan sigulang-gulang, banyak masyarakat Sigulang-gulang yang bekerja di industrinya daripada membuka usaha tenun sendiri, karena kurangnya modal usaha dan mahalnya bahan baku untuk membuat ulos tahun 70-an, masih minimnya keterampilan masyarakat Kelurahan Sigulang-gulang menenun ulos dan usaha tenun ulos marudut pada saat itu yang mempunyai modal yang cukup besar dalam menjalankan usaha tenun ulos sebab usahanya tenun ulos marudut sudah cukup maju di saat harga bahan baku membuat ulos sangat mahal dan langkah pada saat itu tetapi usaha tersebut bisa memenuhi pasokan bahan baku, kemudian industri tenun marudut ini menjadi pusat kegiatan tenun ulos di Kelurahan Sigulang-gulang dan nama industri tenun marudut tersebut merupakan salah satu industri tenun ulos yang sangat terkenal di Kota Pematangsiantar bahkan popularitasnya sampai ke luar daerah sumatera utara.
Pada tahun 1990-an pemilik usaha tenun marudut jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia dan pada tahun 1998 usaha tenun marudut tersebut gulung tikar diakibatkan penerus dari usaha tenun marudut ini tidak mampu dan kurang kompeten meneruskan industri tenun ulos, dan juga tidak adanya persiapan dari pemilik sebelumnya bahwa generasi penerusnya harus yang bisa mengelolah industri tenun tersebut (Salomo, wawancara 18 Febuari 2014).
Pada tahun 1998 industri tenun ulos di Kelurahan Sigulang-gulang mulai berkembang, karena usaha tenun ulos marudut yang sebelumnya penguasa industri tenun ulos di sigulang-gulang gulung tikar, mengakibatkan banyak pekerja-pekerja tenun ulos di usaha tenun ulos marudut membuka usaha tenun sendiri di rumah mereka masing-masing dan menjadi kegiatan ekonomi yang baru bagi masyarakat sigulang-gulang, pada saat itu masyarakat bisa membuka tenun ulos sendiri didukung dengan mulai bisa dibelinya bahan baku (benang) membuat ulos yang sebelumnya tidak mampu di beli oleh masyarakat karena pada saat itu pemilik usaha bahan baku benang melakukan penjualan dengan sistem kredit dan bagi hasil, kemudian usaha tenun ulos yang tadinya hanya di kuasai oleh seseorang kemudian berkembang menjadi kegiatan industri rumahan yang dijalankan oleh satu orang saja dan menyebar ke masyarakat lainnya yang serta perkembangan industri tenun ulos di kelurahan sigulang-gulang juga membawa pengaruh dan perubahan bagi ekonomi dan sosial masyarakat Kelurahan Sigulang-gulang.
Sejak tahun 1998 industri tenun ulos mulai berkembang dan tumbuh kemudian menjadi salah satu kegiatan ekonomi utama bagi masyarakat Sigulang-gulang, industri tenun ulos di kelurahan Sigulang-gulang kebanyakan ditekuni dan dijalankan oleh ibu-ibu rumah tangga sebagai penambah pendapatan bagi keluarga, kegiatan usaha tenun ulos juga sangat berpengaruh bagi para ibu-ibu rumah tangga di sigulang-gulang karena bisa membantu suami dalam mencari nafkah dan menjaga anak-anak mereka di rumah dan melakukan kegiatan selayaknya sebagai ibu rumah tangga.

Dalam perkembangan industri tenun ulos di Kelurahan Sigulang-gulang banyak dijalankan oleh ibu-ibu rumah tangga atau industri rumah tangga, tetapi ada juga industri kecil tahap menengah yang dijalankan 4-19 orang akan tetapi industri kecil tersebut tidak bertahan lama, di akibatkan banyak pelaku usaha tersebut kurang bagus dalam hal manajemen, memenuhi bahan baku dan konsistensi dalam menjalankan usaha tersebut, dan juga masih kuatnya pengaruh industri rumah tangga yang menjadi pilihan karena bisa santai menenun ulos sekaligus menjaga anak-anak di rumah dan tidak terlalu dikejar oleh waktu dalam menyelesaikan ulos yang akan di jual, di bandingkan kerja di industri menengah karena waktu kerjanya tidak sebanding dengan upah yang mereka terima (Serti wawancara 22 Febuari 2014).Kategori industri tenun ulos merupakan industri tradisional dan kondisi industri tenun ulos di kelurahan sigulang-gulang masih home industri/industri rumah tangga yang usahanya dijalankan 1-4 orang yang bisa dijalankan oleh diri sendiri dan anggota keluarga tanpa harus keluar jauh. Semakin banyak anggota keluarga yang terlibat, semakin besar pula penghasilan yang diperoleh. ada juga industri dalam skala kecil yang dijalankan 4-19 orang tetapi hanya sedikit industrinya dan gulung tikar.

 

Industri tenun ulos di Kelurahan Sigulang-gulang tahun 1998 mangalami perkembangan dan menjadi usaha utama di masyarakat khususnya bagi para ibu rumah tangga di sigulang-gulang dalam membantu kehidupan perekonomian keluarga kemudian usaha industri tenun ulos cukup menjanjikan karena ulos selalu dipakai dalam acara adat-istiadat & acara biasa seperti ulang tahun, sebagai syukuran ketika melahirkan dan memasuki rumah baru dll. usaha tenun juga mulai bisa dijalankan oleh masyarakat yang tidak mempunyai modal besar karena bahan bakunya sudah bisa dijangkau dengan sistem kredit kemudian mereka para masyarakat yang memiliki keterampilan bisa menjalakan usaha tenun ulos tersebut karena sayang kalau keterampilan mereka tidak digunakan dengan baik karena keterampilan tersebut sangat berguna untuk meningkatkan perekonomian keluarga dan menjadi solusi bagi masyarakat lain yang ekonominya kurang baik (Domu, wawancara 24 Febuari 2014).
Dan sampai saat ini Kelurahan Sigulang-gulang menjadi salah satu sentra industri tenun ulos dan produksi ulos di Kecamatan Siantar Utara karena banyaknya pelaku usaha tenun ulos di Kelurahan Sigulang-gulang, letak Kelurahan Sigulang-gulang yang dekat dengan tempat pemasaran, cepat mendapat bahan baku, bisa memperoleh informasi tentang permintaan pasar dengan cepat, banyaknya jumlah penduduk orang batak khususnya batak toba sebag sebagian masyarakat Sigulang-gulang membeli ulos, memperoleh informasi harga ulos dari penenun dan penjual ulos di Kelurahan Sigulang-gulang untuk acara kegiatan adat-istiadat dan lain-lain, minat ibu-ibu rumah tangga untuk membuka industri tenun masih cukup tinggi, walaupun di Kelurahan Sigulang-gulang salah satu sentra industri tenun ulos tetapi tidak menutup kemungkinan industri tenun ulos juga berkembang di kelurahan lainnya. Penjualan mereka juga tidak hanya di kota pematang siantar saja tetapi sudah menyebar ke kota-kota lain khususnya bagi komunitas batak dan di kota pematang siantar usaha tenun ulos menjadi salah satu kegiatan matapencaharian dan kegiatan ekonomi bagi keluarga.




Berkembangnya industri tenun ulos di Kelurahan Sigulang-gulang dilatarbelakangi oleh gulung tikarnya industri tenun ulos terbesar dan penguasa di Kelurahan Sigulang-gulang. Penelitian ini mengkaji tentang faktor-faktor yang menyebabkan industri tenun ulos berkembang dan menjadi mata pencaharian masyarakat, antara lain keinginan masyarakat Keluarahan Sigulang-gulang untuk meningkatkan kesejahteraan di saat minimnya lapangan pekerjaan, kurangnya penghasilan dari suami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena pelaku industri tenun ulos mayoritas ialah ibu-ibu rumah tangga. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Mengetahui latar belakang munculnya industri tenun ulos di Kelurahan Sigulang-gulang? (2) Mengetahui perkembangan industri tenun ulos di Kelurahan Sigulang-gulang? (3) Mengetahui pengaruh industri tenun ulos bagi sosial ekonomi masyarakat di Kelurahan Sigulang-gulang?
Pengaruh industri tenun ulos terhadap kehidupan sosial ekonomi dan dampaknya sangat terasa bagi masyarakat Kelurahan Sigulang-gulang. Perubahan sosial yang berubah di Kelurahan Sigulang-gulang setelah berkembangnya industri tenun ulos ialah semakin meningkatnya mutu pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya khususnya para pengusaha tenun ulos supaya anaknya bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan merubah kehidupan mereka, semakin tingginya strata dan pengakuan penenun tersebut di tengah-tengah masyarakat, tidak menimbulkan hubungan yang negatif dengan masyarakat lainnya yang non pengusaha tenun ulos, semakin eratnya hubungan antara pelaku industri tenun tersebut sebab adanya perasaan senasib. Perubahan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat setelah membuka Industri tenun ulos memberikan pengaruh yang baik dengan munculnya lapangan pekerjaan baru dan menekan jumlah pengangguran bagi masyarakat sekitar dan pendatang, meningkatkan penghasilan masyarakat yang tentunya akan meningkatkan pula kesejahteraan masyarakat, tidak bergantung dari pendapatan suami yang sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, meningkatkan jumlah pengusaha-pengusaha baru, semakin berkembangnya sektor industri dan memberikan pengaruh positif ke masyarakat lain dengan membuka usaha bahan baku untuk ulos.






Map Lokasi Menuju Tempat Wisata Tenun Ulos






























       


                    

            


Komentar